Revealing Konspirasi of Freemason dalam Pilemnya sherlock Holmes-Part2

post ini gua ambel dari catatan teman FB dan sekelas gua.. moga bermanfaaat!

*Film ini seolah mengutarakan misi mereka, yaitu menciptakan sebuah tatanan dunia baru (New World Order)

Hidayatullah.com–Hawa nafsu yang dimiliki Bani Israil untuk menyembah berhala sudah tak terbendung lagi, saat Nabi Musa meninggalkan mereka guna memenuhi panggilan Allah untuk menerima wahyu di bukit Sinai selama 40 malam. Akhirnya di bawah pimpinan Samiri mereka mengumpulkan perhiasan emas untuk dilebur dan dijadikan sebuah patung lembu yang nantinya akan mereka sembah. Padahal saat itu Nabi Harun masih bersama mereka, namun tetap saja tidak dihiraukan.

Lembu memang suatu simbol yang sangat penting dalam ritual kaum pagan. Dalam film Sherlock Holmes ini, pimpinan rahasia kuil empat ordo, Sir Thomas Rodrum, juga menggunakan cincin emas yang berukirkan kepala lembu. Hingga akhirnya cincin itu dirampas oleh Lord Blackwood saat ia membunuh Sir Thomas guna mengambil alih kekuasaan ordo tersebut secara paksa.

Satu lagi simbol paling penting bagi kaum pagan Fir’aun yang hingga kini masih berdiri tegak di kawasan Gyza-Mesir, yaitu Pyramid dan Sphinx. Pyramid adalah bangunan yang sengaja dirancang untuk menyimpan mumi raja-raja Mesir, sedangkan Sphinx yang merupakan representasi dari makhluk berbadan singa dan berkepala manusia berada tepat di depan Pyramid, seolah pintu gerbang yang menjaga Pyramid itu sendiri.

Dalam film ini, simbol Pyramid muncul berkali-kali; seperti souvenir yang terletak di meja kantor Sir Thomas dan ruang peribadatannya yang memang “berkiblat” kepada simbol Pyramid di mana Pyramid tersebut juga “dijaga” oleh Sphinx. Bedanya, Sphinx di sini terdiri dari empat unsur; yaitu berkaki singa, berekor lembu, bersayap elang, dan berkepala manusia.

Jika diamati, ujung Pyramid tersebut terdapat siratan cahaya yang mirip dengan Pyramid pada logo uang satu dollar AS. Tiada lain itu adalah simbol all-seeing eye atau eye of providence. Yaitu satu mata yang penglihatannya mencakup segalanya.

Satu mata disinyalir sebagai sebuah simbol Lucifer, yang sebagian lain mengartikannya dengan “antikristus.” Dalam Islam, antikristus berarti dajjal, karena Rasulullah saw. sendiri telah memberitahu bahwa salah satu ciri fisik yang paling menonjol dari dajjal adalah matanya yang buta satu (a’war) dan di jidatnya terdapat tulisan ka-fa-ra

.

Bagi penyembah setan, dajjal merupakan “gembong” yang paling superpower. Betapa tidak? Karena dajjal “dengan istidraj” telah mengaku sebagai tuhan dan dapat membunuh maupun menghidupkan sebuah kaum, ia juga dapat memberikan “surga” dan “neraka” kepada siapa saja yang dikehendakinya. Lantaran itu pula, dajjal merupakan fitnah (ujian) paling berat bagi umat manusia selama bumi ini diciptakan. Rasulullah selalu mewanti-wanti umatnya agar dapat terhindar dari fitnah dajjal ini, tiada orang yang dapat lolos dari tipuan dajjal kecuali seorang mukmin sejati. Itulah sebabnya ia dinamakan dajjal, karena secara bahasa “dajjal” berarti pembohong alias penipu.

Ajaran setan yang diyakini oleh Adam Wishaupt ini kemudian diajarkan kepada para Illuminatus. Ia beranggapan bahwa setan bukanlah makhluk yang hina, melainkan kekuatan yang melambangkan kejujuran, keberanian, dan kebebasan. Paham satanisme ini merupakan bentuk evolusi kemanusiaan, lambang kebebasan manusia, dan mencakup jaringan denyut kehidupan dunia secara global. Oleh karena itu, setelah Illuminati melakukan infiltrasi ke dalam tubuh Freemasonry, pengaruhnya kian melebar ke kawasan Eropa dan Amerika, ditambah lagi sokongan finansial dari Dinasti Rothschild (keluarga bankir Yahu di) yang menjadikan gerakan Illuminaty-Freemasonry ini kian tak terbendung.

Lagi-lagi kembali ke film Sherlock Holmes. Dalam kisahnya itu, Sherlock Holmes setelah berpikir keras akhirnya berhasil memecahkan misteri pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Lord Blackwood. Holmes juga memaparkan bahwa Sphinx di sini diyakini sebagai pintu gerbang menuju sebuah dimensi lain, yaitu dimensi penuh kekuatan tak terkira. Ia menyadari bahwa Blackwood dalam pembunuhannya itu menggunakan sistem ritual mistik yang telah lama diamalkan oleh kuil rahasia empat ordo semenjak berabad-abad silam.

Holmes juga mengatakan bahwa ordo ini merupakan sebuah kelompok persaudaraan (fraternity) rahasia yang sedari dulu telah mengendalikan kerajaan-kerajaan kuno serta mengadopsi kepercayaan dinasti Fir’aun. Ordo ini memiliki sebuah perkumpulan sangat eksklusif, di mana para anggotanya mengenakan baju serba hitam dengan lambang bintang terbalik (Baphomet) di dadanya.

Mirip dengan tokoh antagonis dalam serial Detektif Conan di mana anggota organisasinya berpakaian serba hitam dan memiliki nama samaran yang diambil dari varian minuman keras seperti Vodka, Gin, dan Vermouth.

Namun film yang dibintangi oleh Robert Downey Jr. dan Jude Law ini tidak hanya berhenti dengan mempertunjukkan simbol-simbol Freemason seperti Pyramid, Sphinx, Sun-God, Baphomet berikut ritualnya saja. Film ini bahkan “menantang” umat manusia dengan mengutarakan misi mereka secara gamblang, yaitu mengambil alih kuasa dunia dan menciptakan sebuah tatanan dunia baru (New World Order).

Bagi penonton film yang cuma “sekedar” menonton, mungkin skenario film yang mengisahkan tentang seorang penjahat yang ingin menguasai dunia terkesan sesuatu yang wajar dan biasa-biasa saja. Tapi bagi pengamat teori konspirasi, film ini tentu bukan saja tentang seorang penjahat yang akan dikalahkan seorang jagoan. Film ini sudah kelewat eksplisit dalam menjajakan teori globalis mereka. Simbol-simbol yang digunakan, momentum yang dilakukan, kepercayaan yang dianut, serta slogan-slogan konspirasi yang sangat “telanjang” itu tidak menunjukkan kepada hal lain kecuali kepada sebuah konklusi bahwa film ini adalah film Freemasonry-Illuminaty, dan film ini merupakan film globalis-konspiratif.

Bagaimana tidak? Lord Blackwood dalam adegannya dengan terang-terangan menyatakan ambisinya untuk merombak dunia dan menciptakan sebuah tata dunia baru dengan slogan-slogan Freemason, seperti “We will remake the world” atau “A new order begins now!”  Jika dirujuk, ternyata doktrin ini juga terdapat dalam uang satu dollar AS dan termaktub secara jelas dengan slogan berbahasa latin “Novus Ordo Seclorum”, yang berarti “New World Order.” Ini adalah misi kaum globalis untuk menjadikan dunia ini di bawah kendali mereka. Menjadikan dunia ini sebagai sebuah “great empire” dengan satu pimpinan (E Pluribus Unun) yang tanpa batasan negara, budaya maupun agama. Semuanya serba global dan plural.

Jika ditelaah, kenapa slogan-slogan Freemason tersebut dapat “merembet” ke dalam pecahan satu dolar Amerika? Hal tersebut tidak lain karena uang 1 dolar AS ini sebenarnya dirumuskan dan disahkan oleh sebuah tim khusus yang terdiri dari Benyamin Franklin, Thomas Jefferson, John Adam dan Pierre du Simitiere yang semuanya adalah anggota Freemason tingkat ke-33.

Mereka adalah pengikut Adam Weishaupt yang telah terdoktrin oleh dogma-dogma Illuminatinya sehingga tak heran jika mereka memasukkan logo-logo Kabbalis-Illuminatis berikut buku karya Adam Weishaupt yang berjudul “Novus Ordo Seclorum” sebagai slogan utama dalam pecahan satu dolar tersebut. Itu artinya, bahwa infiltrasi Freemason ke dalam pemerintahan Amerika sudah lama bercokol kuat dan menjadi motor penggerak negara adikuasa tersebut.

Lebih jauh dari itu, di dasar simbol pyramida tersebut tertuliskan “MDCCLXXVI” yang berarti tahun “1776”, yaitu tahun Adam Weishaupt menyelesaikan penulisan buku tersebut tepatnya pada tanggal 1 Mei 1776. Dalam buku yang disusun selama lima tahun oleh Weishaupt itu, ia menggagaskan di dalamnya tentang konsep, doktrin, dan teori sebuah pemerintahan global. Bahkan jika diteliti satu-per satu simbol yang terdapat dalam uang satu dollar AS akan ditemukan tentang pesan rahasia yang sangat mengagetkan, seperti logo burung phoenix yang membawa panah dan daun berjumlah 13, bintang yang berjumlah 13, dan membentuk titik-titik heksagram (bintang David), slogan “Annuit Ceoptis” (limpahan karunia), dan “E Pluribus Unun” (satu pemerintahan dunia) yang juga terdiri dari 13 huruf, dan lain-lain, yang semuanya memiliki falsafah konspirasi tersendiri.

IMF

Apa yang dikatakan Blackwood dalam film ini sesungguhnya bukan sekedar fiksi semata, kaum globalis-pluralis saat ini memang telah merencanakan hal itu secara matang dan terorganisasi. Bahwa dunia ini akan dijajah sehingga mereka membungkuk ketakutan, perang saudara akan diciptakan sehingga membuat mereka semakin lemah, lalu ketakutan itu akan dijadikan sebagai senjata untuk mengendalikan mereka.

Dalam cerita ini, Blackwood menggunakan kekuatan “magisnya” untuk melindungi para pengikutnya yang loyal. Ia bahkan tak segan-segan membunuh Standish “salah satu anggota ordo” yang menolak untuk tunduk di bawah kekuasaannya. Selain itu, untuk melancarkan misinya ini ia memanfaatkan kekuatan polisi. Ia juga ingin mengambil kontrol parlemen Inggris sebagai langkah awal untuk mendominasi kontrol dunia.

Dalam dunia nyata, terdapat beberapa langkah kongkrit yang diambil oleh kaum globalis dalam rangka mewujudkan ambisi mereka ini. Pertama dengan mengendalikan sistem moneter dunia dalam satu kantong besar seperti IMF atau Bank Dunia sehingga akan tercipta ketergantungan yang sadis terhadap lembaga ini yang dengan itu pula mereka mampu membuat kembang-kempis nafas sebuah negara dengan mudah. Bahkan salah satu ucapan Rotschild yang masyhur adalah; “Give me control over a nations economic, and I don’t care who writes its laws.” (Beri aku kesempatan untuk mengendalikan ekonomi suatu bangsa, dan aku tidak akan pedulikan siapa yang berkuasa).

Kedua, setelah tonggak keuangan dapat dikuasai, maka mereka akan menciptakan krisis demi krisis yang akan terus dibina hingga menjadikan sebuah kekacauan super hebat yang terus berkepanjangan. Dari sinilah muncul puncak histeria ketakutan tersebut, dan tentunya, orang yang ketakutan akan mudah dikendalikan layaknya sapi yang dicocok hidungnya. Maka pada titik ini sangat mudah bagi mereka untuk mengeruk kekayaan sebuah negara, sangat gampang bagi mereka untuk intervensi dalam menentukan kebijakan politik, ekonomi, dan isu sosial-budaya sebuah negara. Dan tentunya sangat enteng sekali bagi mereka untuk menanamkan paham sekular, plural, liberal dalam lini kehidupan sebuah bangsa.

Ketiga, pembentukan paradigma dan ideologi publik melewati media massa, pers, dan industri hiburan, baik musik maupun perfilman kepada sebuah central object yang mereka kehendaki. Maka lihat saja saat mereka membuat rekayasa 9/11 dan menyebutnya sebagai tindakan “Islam Teroris”. Tak heran jika seluruh dunia serempak turut menyahutnya dengan “Aaaamiiin!”

Perhatikan saja bagaimana dunia dibuat seolah “beriman” bahwa kiamat benar-benar akan terjadi pada tahun 2012 hanya gara-gara sebuah film yang mereka blow-up dengan begitu antusiasnya. Dan saksikan saja bagaimana mereka sangat concern menciptakan dunia hiburan penuh kamuflase yang dapat membuat pemuda-pemudi menjadi “generasi sampah” dan terus terlelap dalam mimpi indah mereka. Semua itu mereka lakukan sebagai wujud dari mind control yang merupakan bentuk halus dari sebuah hipnotis massal.

Jangan dilupakan juga bahwa film Sherlock Holmes ini adalah produksi Warner Bros, di mana Jack Warner  “salah satu pendiri Warner Brothers” dan juga Louis B. Mayer (MGM), dan Darryl Zanuck (20th Century Fox) adalah orang-orang Freemason yang memiliki industri perfilman terbesar di Holywood. Warner Bros juga-lah yang mengangkat serial sihir Harry Potter yang penuh kontroversi itu ke layar lebar.

Selain langkah-langkah di atas, para globalis juga memiliki planning terkejam berwujud “depopulasi penduduk” yang diaplikasikan dengan menciptakan sejumlah perang dunia dan menciptakan virus-virus mematikan yang sengaja mereka buat untuk mengurangi jumlah “manusia kelas rendah” dan menjadikan dunia ini sebagai tempat bagi “manusia pilihan” saja. Oleh karenanya tidak menutup kemungkinan jika mereka akan menggulirkan perang dunia ke-III dengan poin konflik perebutan tanah Palestina, Iraq, Afghanistan yang akan memicu clash antara Arab dan Barat. Tidak heran pula jika variasi virus baru “seperti flu burung dan flu babi” terus bermunculan di negara-negara miskin.

Kaum globalis sebenarnya bukanlah murni penganut Yahudi. Mereka jauh lebih sesat daripada Yahudi yang telah sesat itu. Yahudi dan Kristen Ortodoks sebenarnya memiliki keserupaan teologi bahwa mereka masih mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, namun mereka kemudian tersesat ketika mengatakan bahwa ‘Uzair (Ezra) dan Isa (Yesus) adalah anak Tuhan. Mereka juga terkunci hatinya karena tidak menerima risalah Muhammad saw. Meskipun hal itu telah termaktub jelas di dalam Taurat dan Injil mereka.

Itulah sebabnya mereka dinamakan dengan “Ahlu Kitab,” di mana syariat Islam memiliki beberapa hukum khusus berkaitan dengan musyrik ahli kitab ini. Namun sekarang Yahudi dan Nasrani yang kita kenal sungguh berbeda, banyak di antara mereka yang jauh lebih tersesat dan keluar dari “akidah” Ahlu Kitab. Mereka tidak lagi menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tapi beralih menyembah Lucifer, Baphomet, Sun-God, atau bahkan menjadi seorang Atheis yang sama sekali tak bertuhan. Lalu timbullah “tarekat-tarekat” sempalan, seperti Freemasonry dan Zionisme yang bahkan orang Yahudi Ortodoks sendiri mengecamnya.

Dari sini kita dituntut untuk proporsional dalam menilai Yahudi sebagai Ahlu Kitab, atau Yahudi sebagai Ahlu Dzimmah atau Yahudi sebagai Kafir Muharib, atau Yahudi sebagai Zionis. Namun apapun itu, yang namanya Yahudi tetap saja Yahudi, mereka adalah musuh bersama umat Islam. Hal inilah yang seharusnya menjadi koreksi utama bahwa musuh utama kita bukanlah sesama muslim yang hanya berbeda madzhab, ormas maupun partai saja. Namun common enemy kita sebagai umat Islam adalah jelas, yaitu semua yang memusuhi Islam, baik itu Yahudi, Nasrani, Freemasonry, Illuminati, atau apa sajalah namanya persekutuan itu selama mereka menimbulkan kerusakan di muka bumi dan menciptakan permusuhan terhadap Islam.

Konspirasi globalis memang bukanlah isapan jempol dan ia benar-benar terjadi dalam dunia nyata. Kumpulan organisasi sejenis Bilderberg, Trilateral Commission, Bohemian Club, Round Table Groups, dan sebagainya adalah beberapa klub yang memiliki misi generik yang sama dalam mewujudkan “Tata Dunia Baru”. Namun hal tersebut tak perlu membuat kita menjadi tidak pede dan memandang mereka begitu dahsyat dan sangat “wah!”. Lalu ketika ada sesuatu terjadi langsung diklaim sebagai “konspirasi,” sedikit-sedikit “Yahudi,” ada ini-itu “Freemasonry.” Tentu ini adalah sikap permisif yang terkesan minder menghadapi realita.

Sehebat apapun propaganda mereka, sesungguhnya tak lebih dari sebuah makar setan yang lemah seperti sarang laba-laba. Bukan salah Yahudi jika kita terjebak dalam umpan mereka, bukan salah setan jika manusia terhasut oleh bujukannya. Itu memang sudah menjadi pekerjaan iblis untuk terus menyesatkan, menjerumuskan dan mencelakakan manusia. Bagi kita umat Islam, jihad melawan hawa nafsu adalah lebih berat dan lebih utama dibanding jihad melawan musuh di medan perang. Lalu, bagaimana mungkin kita menaklukkan pasukan dajjal jika mengalahkan diri sendiri saja belum mampu?. [Musa Yusuf al-Amien, Mahasiswa Program Diploma Universitas Al-Azhar, Kairo/www.hidayatullah.com]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s