Reformasi Dimulai

Assalamualaikum,

sudah sekian lama ini tidak menyapa Onta-Riders se-nusantara, maap nee..

belakangan ini juga onta terbebani dengan tugas kelas 3 yang menumpuk dan over-loaded. ditambah lagi orang kinestik seperti saya butuh lebih dari sekedar teori yaitu pengayaan. sehingga tidak bisa jeda (*alhamdulillah, baru sempet nulis nih).

ok, tentang kenapa judul posting kali ini “REFORMASI DIMULAI”, bermula dengan pembicaraan santai bersama guru Biologi kelas 3 di Madani yang kebetulan membahas hereditas, akhirnya membawa kami ke hereditas sistem birokrasi yang sementara di ajukan di madani yang telah lama resmi menjadi RSBI. berhubung guru kami adalah wakasek RSBI, Jadi curhat pun terlontar mengenai apresiasi sekolah terhadap siswa, baik yang berprestasi (akademik dan Non-Akademik) maupun bagi siswa yang telah suka-rela untuk mengobarkan semangat dan waktu demi harum nama sekolah.

sistem birokrasi sekolah pada dasarnya standar-standar saja, namun terjadi beberapa penyimpangan seperti apresiasi sekolah kepada siswa berprestasi yang berhasil menembus tingkat internasional di turki yang belum sekalipun mendapatkan beasiswa,  kepada siswa-siswa yang telah rela mengejar pelajaran yang tertinggal, ujian yang tertunda dan PR yang tak pernah habis + tertinggal, khususnya kepada para senior,  bagi peserta olimpiade yang telah berdedikasi selama 2 tahun terakhir, dan para patriot muda yang mengobarkan epidermisnya untuk terbakar dibawah terik matahari bersama keringat yang bercucuran demi nasionalisme bangsa dan nama sekolah yang diharumkannya.

semuanya begitu jelas bagi saya bahwa apresiasi institusi kepada masyarakatnya penting demi memacu motivasi hereditas (arti : pewarisan) budaya prestasi yang mulai surut di tahun ini.

mungkin kita bertanya-tanya “apakah mereka bersifat pamrih terhadap setiap prestasi yang diberikannya kepada sekolah?”. jawabannya jelas tidak, kenapa? karena dedikasi siswa kepada sekolah merupakan suatu sumbangsih secara tidak langsung diberikan dari siswa kepada sekolah yang secara  jelas merupakan hasil dan buah jerih-payah tenaga pengajar institusi itu. jadi pada dasarnya memberikan apresiasi kepada siswa sama saja dengan memberikan apresiasi kepada gurunya yang sukses menghantar anak didiknya.

ketika ada yang  bertanya “adilkah kita menyamakan siswa yang berhasil melalui kompetisi tahap kota dengan para siswa yang langsung menuju kompetisi tingkat provinsi tanpa melalui tingkat kotanya? ” dalam benak saya, selama tak ada KKN yang terjadi selama proses seleksi, semuanya adil saja.  mereka bersama-sama berusaha, mereka bersama-sama mengorbankan tenaga, mereka bersama-sama mengorbankan waktu, dan mereka bersama-masa mengejar nilai yang tertinggal pada masa pelatihan mereka. jelas sudahlah bahwa merupakan suatu kebijakan yang tepat untuk menyamakan perbedaanya sehingga tak ada lagi yang berbeda.

kalau kita ingin mempertanyakan prosesnya silahkan saja tanyakan kepada penyelenggaranya kenapa tidak ada tahap kota, bukankah kita hanya mengikuti acara yang mereka selenggarakan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s