“Fa bi aayi ala’i rabbikumatu kazziban”

Inilah hari ketiga, sebuah hari lain dari sebelumnya dimana akhirnya tetes air mata ini bisa lepas dari pelupuknya. melepaskan segala beban, segala rindu, dan segala asa. melihat sebuah celah kosong diantara realita dan harapan untuk sebuah ketentraman jiwa, sebuah jawaban rindu, sebuah cita-cita yang terang .
3 hari sudah dapat memberikanku rasa kecewa untuk sekedar membaringkan badan di ranjangku yang sederhana. Ku tak tahu pupuskah angan ini, angan yang diidamkan semua anak, angan yang memberikan semangat kepada setiap insan.

Bukan aku tidak bersyukur, Alhamdulillah kusyukuri semua nikmat yang telah dia berikan, seluruh nikmat yang telah dia curahkan kepadaku, kepada keluargaku, kepada sahabatku, kepada seluruh handai taulanku.

Hari ini kubersimpuh dihadapannya dengan sajadahku yang tergelar dan surah “ar-rahman” yang ku baca ..
“nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?” nikmat mana lagi?
Tersentak aku, terdiam .. perlahan tetes mata mulai membanjiri pelupuk mata ini dengan suara yang mulai parau sembari melantunkan ayat sucinya ..

Sungguh ya Allah, nikmat mana lagi yang aku dustakan? Aku bertanya akan nikmat mana lagi yang aku dustakan, berkali-kali mencoba untuk melanjutkan bacaanku berkali-kali itu pula diriku tersentak dengan seketika meluapkan air mata ini tanpa sadar sedikitpun?

Apakah aku rindu terhadap ketentraman dari nikmat yang baru ku tinggalkan, sebuah nikmat lain yang telah dia berikan kepadaku … yang perlahan kurindukan, sebuah nikmat yang selama ini aku rasakan sampai aku masuk ke strata pendidikan yang lanjut.

Sungguh ya Allah hanya kepadamu aku kembali dan oleh kepadamu pula aku disisi orang yang engkau muliakan, sungguh hamba hanyalah ciptaanmu yang berusaha mendapatkan nikmat dunia dan akhiratmu.
Aku belum menyerah, aku belum menyerah sementara dunia ini meninggalkan diriku sendiri melawan kerasnya dunia ini, entah apakah ada kamar disana yang bisa memberikanku kedamaian, entah adakah sosok disana yang bisa memberiku kedamaian.

Mungkin inilah jawaban dari segala permintaanku akan perjalanan spiritualku, penggugah hati yang selama ini kucari, sebuah informasi metafisik yang engkau berikan secara fisik dihadapanku.
Insya Allah, aku belum menyerah, aku belum menyerah … Insya Allah Iman ini akan semakin kuat atas rahmat, hidayah dan nikmat yang senantiasa engkau berikan.

Advertisements

2 thoughts on ““Fa bi aayi ala’i rabbikumatu kazziban””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s