Dan sekarang akupun tidak lagi mengenal diriku yang dulu

Kutatap langit pagi yang abu ini, tiupan angin yang menusuk hingga ke tulang dan tanpa ada satupun yang peduli. kutahu Mentari tak lagi mau menampakkan dirinya padaku, terkhusus kepada pecundang ini.

Jalan setapak yang selalu aku lalui mungkin akan menjadi jalan setapak yang selalu akan kulalui sendiri.

Tidak sedikit yang terlepas dari asa ini dan semua itu sekarang menghantuiku.

Sekarang pun aku tak lagi dapat memberanikan diri menatap mentari yang dahulu begitu indah bagiku dan begitupun sekarang. Sadar bahwa ketakutan ini berlebihan, sadar bahwa hal ini terlalu menyakitkan buatku untuk kembali menatapnya. bukan karena mentari yang telah begitu panas menyengat hati ini sehingga menyisakan abu bekas segala hati yang terbakar.

tapi hanya saja aku yang tak lagi mampu menatapnya, menatap segala keindahaanya yang selalu membuatku terdiam sejenak dan menikmati keindahannya yang dia bagikan kepada seisi dunia ini.

aku tak berani .. aku takut .. takut jika aku tidak dapat lagi memalingkan tatapan ini darimu, takut untuk kembali berpura-pura kalau sinarmu selalu menghangatkanku.

yang kutahu kehangatan itu bukan lagi buatku, entah dia seseorang yang kukenal ataupun tidak. Semuanya tidak lagi masalah buatku, kutahu bahkan mentari pun memiliki pasangannya selayaknya bulan dan bintang yang selalu bersama dilangit yang gelap

pembenaran untuk kembali tersenyum didepanmu terasa sulit bagiku, senyum ini terasa berat, senyum ini beku

Aku tak tahu lagi seberapa pecundangnya diri ini,seberapa hina-nya diri ini.

Aku yang hanya bisa melihat kebelakang tanpa penyesalan namun tidak pernah berani untuk melihat hari esok yang penuh keraguan ini.

Aku yang tidak pernah menyesal untuk mengenal sosok yang selalu mencerahkan hari ini  hanya saja aku tidak dapat berbohong akan penyesalan diri ini yang tahu bahwa diri ini tidak akan pernah bisa menjadi seseorang yang terbaik untukmu

Karena aku tahu sinarmu yang hangat itu tidak pernah diperuntukkan buatku, kehangatan yang kau tawarkan itu hanya milik seseorang, dia yang aku tahu lebih layak, lebih baik dari pada aku yang hina ini.

Idealisme ku sekarang sudah berat untuk dipikul, bahkan aku yang sudah berusaha untuk realistis sekarang tak lagi mampu untuk menatapnya, mungkin benar semua ini pesimistis dari sifat melankolis ku.

Jalan ini akan selalu berat bagiku tanpa hangatmu, tanpa sinarmu, tanpamu,

Dan sekarang,

akupun tidak lagi mengenal diriku yang dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s